Bahayakah Jika Anak Suka Konsumsi Makanan Pedas?

Bahayakah Jika Anak Suka Konsumsi Makanan Pedas?

Berita Terbaru Cita rasa pedas dari masakan Indonesia benar-benar sangat disukai banyak orang, tidak kecuali pada anak. Kemungkinan Anda adalah salah satu orangtua yang memperkenalkan makanan pedas pada anak semenjak dini ya. Tetapi sebetulnya kapan waktu yang pas untuk mengenalkan rasa pedas pada anak?

Menurut pakar gizi, dr. Tan Shot Yet, semuanya bergantung pada kesiapan masing-masing anak, apa alat cernanya bisa menerima makanan pedas atau tidak. Tetapi, dia merekomendasikan untuk anak balita di bawah umur 2 tahun, seharusnya bumbu tajam terhitung cabai jangan dahulu diberikan.

“Seharusnya dibawah umur 2 tahun, bumbu tajam terhitung cabai jangan dahulu ya. Sebab kita konsentrasi dahulu dengan makanan untuk tumbuh kembangnya di 1000 hari pertama kehidupannya,” tutur dr. Tan.

Bahayakah Jika Anak Suka Konsumsi Makanan Pedas?

Meskipun bumbu pedas seperti cabai yang memiliki kandungan capsaicin punya manfaat, seperti meningkatkan metabolisme badan, membakar lemak, serta menekan insulin, tetapi jika disaksikan dari keperluan anak, dr. Tan memiliki pendapat belum begitu dibutuhkan. Bila ingin mengambil zat antioksidannya, anak lebih baik konsumsi sayur atau buah lain yang tidak pedas.

Lalu, bagaimana bila anak sudah ketagihan makanan pedas? Haruskah dilarang? Rasa pedas, kata dr. Tan, memungkinkan meningkatkan nafsu makan anak. Sehingga dikhawatirkan, dapat menyebabkan obesitas anak.

“Jika kebanyakan makan pedas, beresiko mual, muntah, serta mengakibatkan ngilu lambuh, dan diare. Diluar itu, rasa pedas itu meningkatkan nafsu makan serta yang dikonsumsi malah memiliki dampak pemrakarsa obesitas, contoh, nasinya jadi nambah, gorengannya tidak dapat berhenti,” katanya.

Oleh sebab itu, dr Tan merekomendasikan, dibanding makanan pedas, seharusnya orangtua memperkenalkan beberapa makanan sehat yang sama. Biarkan anak mempelajari dengan rasa yang lain.

“Jadi dengan semakin kaya pengetahuan rasanya, pasti ia dapat melakukan rotasi dan variasi nantinya. Bukan terpatri pada (makanan) yang itu-itu saja,” tutup dr. Tan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *